Rabu, 01 Maret 2017

Resume Materi 6 MIP

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL - Bandung 1
Bandung, 28 Februari 2017
Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah
Ketua Kelas : Derini Handayani
Korming : Witri
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
IBU MANAJER KELUARGA HANDAL

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu 

kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita 

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.


Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

๐Ÿ€Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?

๐Ÿ€Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?


๐Ÿ€Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?


Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
๐Ÿ€Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.


๐Ÿ€Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses


๐Ÿ€Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Ibu Manajer Keluarga

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita

Saya Manager Keluarga 

kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

๐Ÿ€Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.

๐Ÿ€Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi


๐Ÿ€Buatlah skala prioritas

๐Ÿ€Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.


Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.


b.ONE BITE AT A TIME

Apakah itu one bite at a time? 
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. DELEGATING

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

_ Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_

Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih

 SEKEDAR MENJADI IBU 

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

๐Ÿ€Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.

 Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.


๐Ÿ€Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.


๐Ÿ€Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

 Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.

 Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.


๐Ÿ€Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

 Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

 Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata 

BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/


SUMBER BACAAN:

Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015

Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #3, 2017

Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009


https://youtu.be/Cr9JSJS7CIM

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

Resume Sesi Tanya Jawab Materi #6
IBU MANAJER KELUARGA HANDAL

Pertanyaan 1⃣Teh Prita Annisa Utami
Ibu adalah manager keluarga. Berarti sebenarnya ibu itu 'dituntut' untuk multitalenta ya? Mengingat bahwa meskipun kita mendelegasikan tugas, kita harus tetap kasih training. Hanya saja semultitalenta apapun, tidak melebihi porsi jurusan hidup kita? Apa bagaimana teh?
Terimakasih ๐Ÿ˜Š
Jawaban:
1⃣ dear teh Prita, saya jadi ingat sebuah hadist, 
“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman)


Enak ya kita sebagai wanita? tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Maka sesungguhnya 'ujian' wanita sebagai istri dan ibu itu ga kemana2 koq... ada dirumah. Bukan suatu tuntutan menjadi multitalenta, tetapi kita saya merasa ini adalah fitrah. Iya tentunya kita melakukan segala sesuatu sesuai kemampuan kita. Saya ingat kata ibu, bagi ibu bekerja ranah publik, mendelegasikan ke asisten tidak sembarang menitipkan, tetapi asisten harus melalui training kita yang sesuai prinsip prinsip keluarga. Lalu kembali lagi fokus pada kelebihan kita dan menerima serta menggali kekurangan kita. Misalnya saya suka memasak, maka saya fokus belajar memasak. saya ga suka menyetrika, jadi saya ga fokus belajar menyetrika, saya pun sudah bilang ke suami kalau ini dilegasikan ke asisten. Ya kecuali jika tidak ada asisten, maka saya menyetrika sesuai kemampuan saya. jadi multitalenta sesuai kemampuan masing masing ya ๐Ÿ˜„✅

Pertanyaan2⃣ Witri
Saya seorang irt yg baru resign 1tahun yang lalu dan masih merasakan yang namanya post power syndrome. Saat ini saya mulai bisa menjaga 'kewarasan' saya, namun terkadang jika naik turun moody-nya ini masih ada. Apalagi jika melihat teman2 saya yang lain, yg masih bekerja di ranah publik ko rasanya masih kasuat-suat. 
- bagaimana caranya agar saya merasa tidak berkecil hati jika saya adalah seorang ibu yang bekerja di ranah domestik? 
- bagaimana caranya meng-upgrade motivasi dalam bekerja untuk sampai pada tahap panggilan hati? Karena saya sadar saya masih dalam tahap mengugurkan kewajiban saja.
Jawaban:
2⃣ dear teh Witri, i feel you. Saya pernah ada di posisi ini, tetapi saya tidak sadar apakah saya pernah kena pps. Alhamdulillah teh witri menyadarinya dan menerimanya. 
* Caranya adalah dengan proses teh, terus mengikhlaskan hati kita sendiri, bahwa ini adalah takdir terbaik. Bilang pada suami, jika kita sedang jenuh, maka minta libur dari kegiatan domestik. Semuanya butuh proses, tetapi yang paling penting sering sering menatap anak-anak ya teh dan selftalk ke hati, saya dulu sering melakukannya. 

* perbaiki niat dan tujuan. Niat ini keliatannya gampang ya, tetapi sangat sulit dikerjakan. Tentukan niat dan tujuan kita karena Allah. Segala sesuatu yang niat karena Allah, itu akan terasa ringan karena ada tangan dan pertolongan Allah ke diri kita. Saya suka diingatkan suami, kalau saya sedang bete dan jenuh, mau masak yang spesial pun ga akan terasa spesial di mulut suami dan anak2. tetapi saya terharu ketika kita masak biasa biasa aja, tapi kita memang niat karena Allah, anak sama suami kayak makan di restoran. Bahagia sesederhana itu teh. Selesai dengan diri kita sendiri ya ๐Ÿ˜˜✅

Pertanyaan 3⃣Teh Nurita
Saya pribadi merasa kadang sumber motivasi saya berasal dari luar (mungkin masih di level asal kerja dan kompetisi), meski ada saatnya saya merasa memang panggilan hati. 
Yang terasa, motivasi saya seringkali naik turun dipengaruhi emosi dan hormon๐Ÿ™ˆ.
Gimana caranya ya teh supaya motivasi yang bersumber dari panggilan hati yang lebih sering muncul. Karena saya tau, yang berasal dari hati pasti hasilnya lebih baik.
Jawaban:
3⃣ dear teh Nurita, mungkin hampir sama ya dengan jawaban teh Witri di atas ya ๐Ÿ‘†๐Ÿป. Saran saya ketika marah, jenuh, bosan keluar dari zona itu teh. Take a break. Lalu healing diri kita, ingatkan tentang niat dan tujuan hidup kita, ingatkan tentang amanah kita, ingatkan tentang umur yang dibatasi. Setelah cooling down, tarik nafas dalam-dalam biasanya akan lebih baik ๐Ÿ˜„✅

Pertanyaan 4⃣ Teh Dwi
Kebetulan saya belum menikah. 

Hal yang saya "takutkan" ketika saya berkeluarga  adalah ketika keluarga membutuhkan saya sedangkan pekerjaan sedang padat2nya. Saya tdk berencana resign karena saya bekerja untuk memenuhi harapan orangtua . Pernah ada pikiran utk berhenti kerja suatu hari . Tapi mungkin ini akan mengecewakan orangtua . Barangkali teteh dan teman2 bisa bagi pengalaman utk menghadapi hal ini..
Jawaban:
4⃣ dear teh Dwi, hati hati dengan kecemasan akan masa datang teh. Kadang kadang apa yang kita pikirkan belum tentu akan terjadi ๐Ÿ˜„
Pengalaman cemas berlebih bisa jadi penyakit. 

Mungkin hanya waktu dan proses yang akan menjawabnya. Saya kembalikan ke forum ya biar ada sudut pandang dari banyak orang ✅

Pertanyaan5⃣ Teh Hani
Mohon dijelaskan lebih detail makna dari "Selesai" dengan manajemen rumah tangga. Apa parameter  "selesai" dengan manajemen rumah tangga ini. Apakah saat kita telah mampu mendelegasikan beberapa pekerjaan, kepada orang lain? Bagaimana jika kondisinya kita belum dimampukan untuk memiliki orang yg bisa di delegasikan, misal anak pertama masih kecil dan tidak memiliki ART. 
Terimakasih.
Jawaban:
5⃣ Dear teh hani, menurut saya selesai itu bukan mendelegasikan. Ketika kita mampu menjadikan manajemen rumah tangga adalah ladang amal kita sebagai ibadah kepada Allah. Di materi sudah dijelaskan, kalau bagi ibu ranah domestik harus menjadikan pekerjaan rumah tangga di rumah sebagai yang utama, begitu pun ibu ranah publik. 
Coba ini : 
- Amati pekerjaan apa saja yang kita senangi dan tidak 
- Diskusi dengan suami apa saja pekerjaan yang harus beres utama
- Bikin jadwal pembagian pekerjaan. Kapan setrika, kapan cuci, dll
- Sesuatu yang tidak kita sukai, kerjakan semampunya. 

misal kalau kita tidak setrika, sepakat aja sama suami, pakaian dilipat, lalu setrika saat mau pergi atau membagi setrikaan berdua. 


Hal ini harus dicoba dan dilatih, nanti lama lama jadi biasa dan tidak berat. Yuk sama sama niatkan kalau kerjaan dirumah itu ladang amal para ibu dan ayah. Saya juga masih belajar bersama terus sama suami ✅

Pertanyaan6⃣ Teh Nopi 
1. Sering kali saya merasa pekerjaan domestik menyimak waktu sehingga waktu bermain dg anak jd berkurang. Bagaimana mensiasatinya?
2. Motivasi sy bekerja kadang berubah2 teh. Ya kadang merasa asal kerja, kadang merasa kompetisi, kadang panggilan hati. Gmn ya cara merubah mindset kita bahwa pekerjaan ini adalah panggilan hati?
Jawaban:
6⃣ dear teh Nopi, 

1. Iya teh memang pekerjaan domestik suka bikin ga fokus. Caranya bikin jadwal teh. Misal saya sendiri, pagi-pagi itu masak dan siapin bekal. Jadi kalau anak ajak main, saya tolak, saya kasih pengertian pagi itu "sibuk". Nah selain jam itu, kita bikin jam fokus. Misal bisa fokus main jam 9-10. Beberes jam 10-11. Kalau di jam beberes anak ajak main, yang penting didengarkan dan diperhatikan aja, kita ga usah fokus, malah lebih enak ajak anak beberes bersama. Harus dicoba untuk fokus, susah memang, tapi kalau terlatih insyaAllah bisa. Saya juga masih belajar fokus dan patuh sama jadwal. O iya tentukan pekerjaan domestik apa yang wajib beres sama suami. Biar sama2 enak, jadi kalau suami pulang rumah masih ajaib, ga ada yang terbebani ๐Ÿ˜„✅

Pertanyaan7⃣ Teh Wilda 
Bismillah. Teh, bahasa pendelegasian mungkin hal yang paling riskan bagi saya karena posisi anak dititipkan selama mengajar ke ibu saya (neneknya). Nah, bagaimana pendelegasian itu bisa disesuaikan? Mengingat dalam beberapa hal ibu saya selalu punya keputusan sendiri dalam menangani si kecil. 
Wilda. 
๐Ÿ™๐Ÿ™
Jawaban: 
7⃣ dear teh Wilda, ini mungkin juga berlaku bagi pasangan yang masih serumah dengan mertua atau orangtua. Jadi tetapkan prinsip keluarga inti dulu teh. lalu sounding ke anak tentang prinsip ini. Sambil teteh bicara pelan dan memberi pengertian ke ibu teteh mengenai prinsip keluarga inti. Kebetulan saya tidak tinggal dengan mertua, tapi sering ke rumah mertua. Jadi kemana pun, aturan itu masih berlaku. Misal disana boleh bebas makan cemilan, kalau aturan kami boleh makan cemilan setelah makan utama. Jadi ya asal anak dan keluarga lain diingatkan dengan baik, anak anak tetap akan nyaman sama ibu bapaknya.  Lalu tutup informasi negatif dengan informasi positif. ✅

Pertanyaan Teh Nopi
Teh ismi punten mau tanya lg, ga pa2 dijawabnya pas lg santai aja ๐Ÿ˜Š

Saat kita fokus dg pekerjaan domestik, misalnya masak. Bagaimana dg aktivitas anak? Sy sering menitipkan anak pd film2 kartun saat sy sedang "riweh" dg pekerjaan domestik. Meskipun sy merasa bersalah, tp biar anak anteng ๐Ÿ˜ฃ
Jawaban:
Kalau teteh typical yang bisa nyambil sambil masak atau harus fokus? 
Kalau bisa nyambi, pas kita motong2 atau nyiangi sayuran... diajak aja teh. Kalau yang bahaya, ajak main tepung atau papasakan bawang. Wayahnya ya kalau berantakan...
Nah kalau teteh harus fokus, maka digeser teh waktunya, harus ada yang didulukan. 

Contohnya gini : 
Dulu saya anak pertama, bisa disambi kalau masak. Jadi saya motong2 atau nyiangin sayur, dll, si kakak itu ikut, kupas2 bawang pakai tangan, mainin sayuran, main tepung atau ambil alat masak. Jadi jam masak saya = bisa kapan aja. Kadang kala, si kakak bisa juga ditinggal main lego or main bebas lain. 

Ternyata...... 
hal ini tidak berlaku kepada anak kedua, dia pun ga bisa dikasih tontonan. Mau ikut, tapi yang ada saya tambah stres, karena dia curiousnya lbh tinggi, jadi main garam, atau apalah. berantakin piring. berbeda sama anak pertama. akhirnya setelah saya baca ritme, saya putuskan untuk jam masak = harus ada suami. Jadi saya masak itu pagi2 sblm suami brgkt. Malamnya saya motong2 sayur, bawang, dll teh. Nanti yang tinggal digoreng biasanya suami ambil alih ๐Ÿ˜„

Nah kalau urgent harus masak saat tak ada suami, saya biasanya memberi dia aktivitas yang bikin betah, main air, main tepung, yang sesuailah sama si anak kedua. Sekarang seringnya delegasikan adik ke kakak ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™ˆ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar