Tampilkan postingan dengan label IIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IIP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day10

Kekurangan saya adalah kurang suka beraktivitas fisik di luar rumah, akhir pekan biasanya saya hanya melatih kekuatan kaki kecil anak-anak dengan berjalan-jalan agak jauh di sekitar rumah. Saya sangat jarang mengajak mereka melakukan olahraga seperti main bola di halaman. Biasanya peran ini diambil oleh suami saat kami belum mengalami ldm seperti kini.

Padahal selain lego dan puzzle, dede terlihat bersemangat bila diajak bermain fisik. Kadang tiba-tiba saja saya dan dede sudah telibat dalam 'perang' lempar bola, bila sudah begini dede terlihat sukar berhenti bermain.


Ada dua kesempatan yang membuat mata saya terbuka, yakni saat berkunjung ke villa istana bunga dan ke Depok kemarin, ketika dede berkesempatan bermain bola di luar ruangan. Gerak lincah dan semangatnya menggambarkan bagaimana ia menyukai kegiatan ini. Agak sulit memintanya berhenti bila sudah mulai bermain.

Yang terlintas kini, adalah menggali perasaannya dan berusaha memfasilitasinya bila diperlukan.
-----------------------------

Sabtu, 13 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day9

Akhir pekan kami mengunjungi keluarga di Depok. Begitu tahu rencana akhir pekan ke luar kota, kaka segera mengemasi perbekalannya: atlas, binder, buku cerita. Tak mau kalah, dede pun segera mengemasi perbekalannya: mainan, mainan dan mainaaaan.

Perjalanan yang memakan  waktu sekitar 2,5 jam, dihiasi segudang pertanyaan yang meluncur  dari bibir kaka. Mana gunung tangkuban perahu? Kita di kota apa? Ia pun rajin memerhatikan nama- nama kota yang dilewati.

Begitu tiba di depok, baik kaka dan  dede segera menyibukkan diri dengan kesenangannya masing-masing. Kaka segera terlibat  obrolan seru dengan pakdenya -membahas atlas tentunya-. Dede meski sudah membawa bekal mainan, tetap saja asik bermain dengan mainan milik sepupunya tentunya.

Agenda rutin saat berlibur ke Depok adalah bermain di taman dan membaca buku. Jadi selain membaca atlas dan bermain dengan mainan bekal dan koleksi, kegiatan yang juga membuat mereka selalu bersemangat apalagi saat cuaca tak begitu terik.

Keseruan bermain bersama saudara, memberi kesempatan pada kaka dan dede saling mengenal, bekerjasama maupun berkonflik. Ini menjadi salah satu waktu yang tepat mengembangkan kecerdasan baik interpersonal maupun internasional.
-----------------------------

Jumat, 12 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day8

Semenjak mendapat atlas baru, kaka semakin lengket dengan atlasnya. Hari ini, tanpa sepengetahuan saya ternyata kaka membawa atlasnya ke sekolah (saya benar-benar baru tahu saat ia membuka atlasnya sambil duduk di samping ibu guru).

Sebelum kelas berakhir, ia mendatangi saya sembari menunjukkan lembaran atlas yang tercecer (iyaah, kok jilidnya ngga kuat gini yaa). Beberapa temannya mengikuti, lalu mereka asyik melihat gambar hewan dan planet dari atlas.

Kegiatan lainnya yang dilakukan kaka adalah membolak-balik halaman (iya..awalnya saya percaya ia hanya membolak-balik atlas barunya), tapi tak berapa lama kemudian ia menyebutkan perbedaan antara atlas yang baru dan yang lama. Misalnya di atlas yang baru tak tergambar gunung sinabung, perbedaan penulisan nama kota kecil pun tak luput dari perhatiannya.

Saat saya bertanya apa yang berbeda, saya melihatnya tersenyum bergegas mengambil atlas dan menunjukkannya pada saya (padahal sebenarnya ia tengah menonton tv). Saya merasa saat ini ia mang tengah mabuk atlas.
-------------------------------
Setelah kemarin mengutak-atik baut di handy talky (ia berhasil memasangnya kembali!), hari ini ia sibuk dengan mainan lama miliknya.

Sebuah set lego berukuran kecil yang banyak dijumpai di minimarket, sejak pulang sekolah hingga menjelang jumatan ia sibuk menyusun puzzle legonya. Yang istimewa dari dede, bila saya memintanya membereskan lego maka ia akan melepaskan satu persatu keping lego yang telah disusun.

Andai itu saya, maka yang saya akan lakukan adalah menjaga lego tetap utuh tersusun dan mengembalikannya kedalam wadah. Tapi tak demikian dengan dede, tak masalah baginya untuk menyusun kembali, dan ia selalu terlihat asyik dengan kegiatan susun menyusun semacam ini.
------------------------------


Kamis, 11 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day7

Proyek Poster Rumah Adat 34 Provinsi

Kami belum melanjutkan proyek poster kami. Alasannya adalah, pagi ini saya berkesempatan mengunjungi salahsatu toko buku di kawasan jalan Supratman, salah satu tujuannya untuk meng-update atlas kaka. Yeay akhirnya..

Agak bingung sih saat mencarinya, rasanya semua isinya sama saja, hanya berbeda warna sampul dan penerbit (mengapa begini? Entahlah). Tak terlalu lama, saya mengambil sebuah atlas bersampul biru dari rak, yang belakangan saya sesali karena ternyata kertasnya mudah lepas akhirnya harus saya olesi lem setiap lembarannya (duuh..nambah pekerjaan tangan). Saya justru menghabiskan waktu lebih lama di area buku anak, mencari buku untuk berkisah, saking lamanya nggak ke toko buku saya sedikit jadi kalap.

Nah, begitu tahu kalau saya sudah membeli atlas yang baru, langsung deh kaka sibuk membolak-balik halamannya, yang cukup lengkap karena disertai gambar rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, lebih lengkap dibandingkan atlas sebelumnya. Akhirnya hingga menjelang petang, kami belim belum melanjutkan lagi proyek kami.
------------------------------

Proyek Puzzle 4x3

Kali ini saya berusaha membuatkan gambar McQueen di sehelai kertas, membiarkan dede mewarnai dan terakhir menempel serta mengguntingnya menjadi puzzle 12 keping.

Kegiatan membuat dan memainkan puzzle sepertinya memang menyenangkan baginya. Meski saya merasa tantangannya perlu ditingkatkan. Bahkan suami menyarankan untuk menyerahkan puzzle 500 keping untuk si bungsu. Saya hanya dapat menggernyit mendengarnya, ..hmm.. mungkin nanti akan saya coba.

Ah, kali ini sembari saya senam jari, dede nampak asyik duduk di samping saya. Sebelah tangannya memegang handy talky, sementara lainnya memegang obeng. Satu handy talky sudah terbuka di bagian baterainya, sementara satunya on process.

"Kenapa di bongkar dek?", tanya saya.

"Nggak, cuma lihat aja", jawabnya kalem sembari meneruskan pekerjaannya.

Nampaknya ada lagi hal yang membuatnya anteng dan betah duduk lama: mengutak atik benda berbaterai!
------------------------------

Rabu, 10 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day6

Proyek Rumah Adat 34 Provinsi

Hari ini kami mulai mendata dan menuliskan nama-nama rumah adat di Indonesia. Saya membantu membuat tabel sederhana untuk tempat menulis nomer, nama provinsi dan nama rumah adat.

Pada praktiknya kaka menyebutkan nama provinsi dan 'perkiraan' nama rumah adatnya, lalu saya melakukan pengecekan dengan berselancar di google. Dari 10 provinsi yang kami cari hari ini ada 7 rumah adat yang kaka sebut dengan tepat  sementara untuk tiga lainnya yaitu Jawa barat, Jawa timur dan NTB karena ada beberapa pilihan (lebih dari 1 rumah adat), kaka saya minta memilih satu saja.

Kaka terlihat tekun ketika mengerjakan proyek ini, ia berusaha mengingat, dan bersemangat menunggu hasil pencarian rumah adat. InsyaAllah ini akan kami lanjutkan hingga beberapa hari kedepan.
------------------------------

Proyek Puzzle 3x3

Proyek yang terlintas ketika mengamati dede yang gemar mengutak-atik mainan, adalah membuat puzzle.

Saya mengawalinya dengan obrolan santai, mengajaknya menggambar dan menjadikan karyanya puzzle. Ia menanggapi dengan bersemangat tanpa banyak alasan ia segera membantu mencari bahan-bahan yang kami perlukan.
Saya membantunya menggambar, dede mewarnai, dilanjutkan  dengan menempelkan gambar diatas karton dan mengguntingnya menjadi 9 kepingan puzzle.


Awalnya dede mengatakan 'susah tak ada alas puzzlenya' saat saya minta menyusun, akhirnya saya bantu memberi contoh. Setelah memerhatikan, akhirnya ia bisa menyusun sendiri, dan beberapa kali menunjukkan hasilnya sambil tersenyum senang

------------------------------

Selasa, 09 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day5

Sembari mempersiakan rencana untuk proyek bersama kaka. Kali ini saya mencoba mengamati dede dengan lebih saksama.

Dede, di usianya yang menginjak tahun ke 5, masih berfokus dengan kegiatan bermain, baik itu bermain bersama maupun secara mandiri. Ia sudah dapat berinisiatif untuk bermain di luar rumah atau di dalam rumah saja.

Jenis permainan yang ia suka cukup beragam, namun akhir-akhir ini ia sangat suka dengan jenis robot-robotan yang bisa berubah bentuk. Ia tidak memerlukan waktu lama untuk belajar dan segera asik mengutak-atik mainannya dan mengembalikan ke bentuk semula.

Dari kemampuan bersosialisasi saya melihat perkembangan kecerdasan interpersonalnya yang terus meningkat.
Jika di level PG ia masih malu-malu, dan kadang enggan sekolah bahkan bersembunyi dibelakang tubuh saya, saat ini ia terlihat lebih bersemangat.

Senin, 08 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day4

Selain terlihat tengah menggemari peta, saya memerhatikan bahwa ia pun gemar berbicara. Ia tak ragu untuk bertanya bahkan bercerita bila telah merasa nyaman dengan lawan bicaranya.

Bila saya memintanya bercerita, ia tak terlihat kesulitan untuk menemukan ide cerita. Seperti sore ini, saat saya memintanya bercerita.


"Ada seekor musang bernama Boas", dan bla..bla..bla..

Geli saya mendengarnya, ia memakai nama kaka yang mengasuhnya dikidsco kemarin, ditambah dengan imajinasinya. Beberapa saat berselang, saya memintanya menceritakan kembali dan ia tampak gembira melakukannya, cerita yang sama meluncur dari bibirnya namun dengan ending yang berbeda.

Sedikit yang unik darinya adalah, ia senang membuat suara gaduh. Kadang ia menyanyikan lagu dengan suara keras (padahal ia tahu saya tak menyukainya), kadang berteriak dengan gaya ala orang memberi pengumuman. Saat ini saya jadi memikirkan, apakah ini bentuk 'protes' nya agar mendapat perhatian saya saat ia ingin menyalurkan kebutuhannya untuk berbicara?

Minggu, 07 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day3

Hari ini saya dan anak-anak mengikuti famgath pengurus IIP kota. Sesuatu yang baru bagi saya, mengajak kaka dan dede bepergian cukup jauh tanpa ada 'bala bantuan'.

Sejak beberapa hari sebelumnya saya telah membicarakan rencana ini dengan anak-anak, bahwa mereka akan berkegiatan di kidsco tanpa saya.

Hari H, sepanjang perjalanan kaka tampak mengagumi pemandangan yang ia lewati, rasa takjubnya terlontar.
"Subhanallah, indah yaa".
Ia terus menanyakan nama gunung dan bukit yang terlihat olehnya.
"Itu Tangkuban perahu? Itu bukit tunggul? Tante Puput tinggal dimana? Di gunung Manglayang?".

Kaka tak tampak canggung meski saat itu kami nebeng kendaraan teman menuju ke tempat kegiatan, mungkin karena kami pernah mengajak kaka berkunjung dan beberapa kali bertemu dengan keluarga Puput (thanks tante Uput n fam).

Dede tak henti ikut mengamati, setiap kali mendengar kaka menunjuk sesuatu, tak banyak kata namun matanya mengikuti.

Ketika kami tiba di lokasi acara, tiba-tiba saja kaka berkata kalau inginnya berkegiatan dengan saya saja.
Dede, justru terlihat pede saat ditanyai nama ia pun tampak lebih luwes berkomunikasi dengan kakak dari PAS yang baru pertama kali dikenalnya.
Kaka, pada akhirnya mau setelah dibujuk kakak pengasuh, rupanya ia butuh adaptasi yang lebih lama untuk dapat berkegiatan bersama.

Cukup lama kami berkegiatan secara terpisah. Hingga tiba saatnya pulang, kaka beberapa kali mendatangi saya merajuk meminta ini dan itu, meski akhirnya mau kembali berkegiatan secara terpisah, dan sebenarnya saat bergabung di kidsco ia  terlihat cukup nyaman.

Satu kesimpulan saya adalah, saya harus lebih serius membantu kaka untuk menemukan apa yang ia suka dan ia bisa untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.
------------------------------


Hari ini saya tutup dengan ucapan terimakasih pada keduanya, karena menemani saya berkegiatan bersama member IIP lainnya. Lelah pasti, tapi insyaAllah berbanding dengan rejeki silaturahim serta banyaknya pula ilmu yang didapat hari ini.
Alhamdulillah..




Sabtu, 06 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day2

Kali ini saya masih mengamati kegiatan keseharian kaka, yang belakangan itu lagi- itu lagi. Masih dengan atlas dan teman-temannya, yang membuatnya betah berlama-lama mengamati bahkan mulai berkarya.

Kaka, sering kali membuat saya terkejut akan kemampuannya.

Semalamam sebelum tidur ia terlihat sibuk sendiri di samping tempat tidur.

Tak lama ia menunjukkan hasilnya, sebuah peta!

Pulau Sumatra dan Kalimantan dilengkapi nama-nama Provinsinya. Dengan segala keterbatasannya ia membuat peta sederhana versinya sendiri (biasanya ia kurang menyukai kegiatan menggambar). Saya agak terharu dibuatnya..

------------------------------
Disaat saya mulai mengantuk, tiba-tiba saya mendengar kaka menyebut-nyebut Bandar seri begawan, saya jadi penasaran untuk bertanya padanya..

Saya: "Bandar seri begawan itu apa?"
Kaka: " Ibu..ibu.. ibukota Brunei"
Saya: "Kalau Indonesia?"
Kaka: "Jakarta"
Saya: "Malaysia?"
Kaka: "Kuala lumpur"
Saya: "Inggris?"
Kaka: "London"
Saya: "Kaka tau dari mana?"
Kaka🏻: ... (Ia menunjuk dinding, poster bendera negara-negara di dunia)
Saya: (oalaaah...😍)

Rupanya ia cukup jeli mengamati dengan teliti informasi dari poster yang terpasang didinding.

Jumat, 05 Januari 2018

My Journey: Bintang Keluarga day1

Kaka semakin sering mengeksplor atlasnya. Hal-hal yang ada kaitannya seperti rumah adat, pakaian adat dan bendera negara-negara pun menjadi salah satu perhatiannya. 


Saya ingat, sebelum tidur semalam ia mengamati rumah adat Gorontalo.

"Gorontalo dimana bun?".

"Seingat bunda Sulawesi kak".

"Sulawesi apa?", Ia bertanya lagi..ini seperti saat saya menanyakan tentang rumah gadang padanya.

"Wah, bunda tidak hafal..., harus lihat peta kak", saya mendengar ia mengeluh tanda tidak puas.

Ia terus memandangi gambar agak lama.

"Sepertinya Sulawesi Utara, iya bun?", Ia meminta jawaban 'ya' dari saya.

"Mungkin...", Jawab saya kurang yakin.

Dan tampaknya tanya yang belum terjawab itu ia bawa kedalam tidurnya.

Bangun tidur,  setelah sejenak meminta elusan di punggung, ia segera beralih ke poster rumah adat.

"Nanti aku mau tinggal di rumah adat yang ini (bolon), bunda yang ini (gadang), dede yang ini (limas)", ia menunjuk gambar-gambar rumah adat di hadapannya.

Obrolan kami berlanjut dengan membahas, mengapa rumah adat banyak yang terbuat dari kayu bukannya semen. Saat itu, saya lebih mengaitkan dengan kondisi Indonesia yang dahulu kaya akan hutannya. Sebenarnya ini erat kaitannya dengan ranah interpersonal, saya bisa menggali lebih dalam dan mengikat makna ciptaan Allah berupa hutan tropis di Indonesia (tapi nampaknya saya tak cukup dalam tadi).

Menurut saya, ketertarikan kaka saat ini menunjukkan perkembangan kecerdasan visualnya. Sejauh ini beberapa fasilitas pendukung seperti peta dan poster telah tersedia, meski sebetulnya belum cukup. Beberapa kali ia mencoba menggunakan sarana 'ok google' dan google maps, namun saya batasi dan awasi, karena biasanya ia justru memperluas pencariannya ke topik-topik lain, dan menurut saya ini cukup riskan.

------------------------------

Pagi ini saya baru sempat mengecek, mengapa kaka berkesimpulan bahwa Gorontalo berada di Sulawesi Utara. Rupanya ia memperhatikan adanya gambar rumah adat dari Sulawesi Utara yang mirip dengan gambar rumah adat Gorontalo (hahaha, gimana ini pembuat poster?).

Namun setelah saya kembali berselancar, saya menemukan beberapa fakta lain. Diantaranya adalah provinsi Gorontalo berbeda dengan Provinsi Sulawesi Utara. Prov Gorontalo, menurut literatur terbentuk di tahun 2000. Di dalam penjelasan lainpun dituliskan bahwa rumah adatnya bernama Bandayo Poboide, berbeda dengan poster yang menyebutkannya sebagai Dolohupa/pewaris.

Kesimpulannya adalah saya benar-benar harus ikut belajar bersamanya.
------------------------------

Sabtu, 02 Desember 2017

My Journey: Math Around Us day10

Menikmati liburan, taman lalu-lintas menjadi salah satu tujuan kami. Semenjak renovasi baru kali ini kami dapat kembali berkunjung dengan formasi lengkap, cuacapum cukup cerah seakan mendukung kami berkegiatan di sini.

Memancing Ikan
Setelah berkeliling beberapa saat permainan memancing menjadi salah satu kegiatan yang diminati anak-anak. Kesabaran dan fokus diperlukan disini, tak butuh waktu lama untuk dede menikmati permainan ini. Sementara kaka pada awalnya cukup kesulitan mengatur posisi pancingny, dan saya jadi keasyikan membantuny memancing. Saat ia mencoba sendiri, saya tak bisa menahan untuk berkomentar bagaimana seharusnya ia memegang pancing.

"Iiiih, bunda mah berisik", kaka memprotes, dan saya langsung menutup mulut memperhatikan apa yang ia lakukan.
 
Ia tak mengikuti saran saya untuk memperbaiki posisi pancing, melainkan mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat ke arah ikan. Dengan cara ini ia berhasil memperoleh ikan yang diinginkan.
Diawali dengan kesulitannya memancing ikan, ia telah membuat kesimpulannya sendiri tentang bagaimana cara menangkap ikan yang efektif (versi kaka).

Buah Tangan
Sebelum pulang sambil menunggu bakso disajikan, anak-anak bolak-balik membujuk kami untuk membeli mainan. Kaka menunjukkan set balon tiup pada kami.

"Berapa harganya ka?", saya bertanya.

"Bunda ayo anterin tanya", ia merajuk.

"Kan kaka ingin beli, jadi kaka harus berani bertanya berapa harganya".

Berdua dengan dede mereka kembali ke tempat penjual mainan. Saya dengar kaka bertanya.

"Tiga puluh ribu bun", kaka kembalu dan berseru.

"Wah mahal ka, yang lain saja ya", pinta saya.

Keduanya kembali ke tempat penjual mainan, tak lama mereka kembali.

"Ini sepuluh ribu bun", ia menyodorkan mainan berbentuk hp.

Berdua dengan suami kami mengamatinya, ternyata yang di pilih kali ini adalah jenis water games, yang dimainkan dengan menekan tombol untuk memberi tekanan di dalam air agar cincin di dalamnya bergerak dan masuk ke tongkat plastik kecil yang ada di tengah.


Menurut saya, ini jenis permainan yang melatih kesabaran, juga dapat digunakan untuk melatih kemampuan hitung (meski jumlah total cincin tak lebih dari 10). Akhirnya water games ini akhirnya menjadi buah tangan dari kunjungan kami hari ini.

Jumat, 01 Desember 2017

My Journey: Math Around Us day9

Pukul lima pagi, saat kaka bangun ia langsung bertanya "Mana ayah?".

Penyebabnya karena kemarin sebelum tidur saya memintanya berdoa agar perjalanan ayah ke Bandung lancar, meski saat itu ternyata delay karena cuaca.

Biasanya saya bisa memberikan perkiraan waktu saat mereka bertanya. Namun kali ini saya hanya dapat menjawab "Masih di jalan ka, macet". Tak berani menentukan pukul berapa ia akan tiba.

Pertanyaan yang sama diajukan dede sesaat setelah bangun tidur, jawaban saya masih belum berubah.


Jarak, Waktu dan Kecepatan

Perjalanan Kualanamu-Jakarta yang biasanya ditempuh sekitar dua jam lima belas menit, mengalami penundaan hingga 3,5 jam, cuaca sebagai alasan keterlambatan. Baik saya maupun suami dapat menerimanya, karena sejak pagi aaya merasakan sendiri betapa Bandung gerimis dan berangin kencang sepanjang hati karena efek siklon dahlia, begitu pula Kualanamu.

Saya membayangkan penerbangan yang beresiko bila dipaksakan. Yang penting selamat, pesan saya pada suami sebelum akhirnya pesawat membawanya menuju Jakarta.

Mengapa tak langsung terbang ke Bandung? Karena tak ada lagi jadwal penerbangan sore menuju Bandung, dan biasanya cukup melanjutkan dengan kendaraan bus dari bandara untuk tiba ke Bandung.

Namun, perhitungan kami ternyata meleset. Keterlambatan pesawat, hingga akhirnya saat tiba di Jakarta sudah terlalu larut untuk mendapatkan bus ke Bandung. Meski akhirnya dapat diselesaikan dengan menggunakan jasa sewa mobil dengan patungan bersama penumpang lainnya.

Selesai?
Ternyata belum, karena perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam kurun waktu 3-4 jam dengan transportasi umum, mulur menjadi sekitar 7 jam, sebagai dampak libur panjang dan adanya kecelakaan di jalan tol.

Meski tak sesuai rencana, Alhamdulillah, kedatangannya disambut penuh suka cita oleh kaka dan dede, ada suka sekaligus haru yang berpadu di momen itu.

Meski waktu adalah hasil bagi dari jarak dengan kecepatan dan dapat dihitung secara matematis, namun ada banyak faktor lain yang memengaruhi hasil akhir. Kita dapat membuat rencana dengan segala perhitungannya sebagai bentuk ikhtiar, namun Tuhan yang menentukan.

Ikhtiar doa dan bertawakal.


Kamis, 30 November 2017

My Journey: Math Around Us day8

Bermain Geometri 

Kali ini saya mengajak anak-anak berkreasi dengan bentuk-bentuk geometri segi tiga, persegi, persegi panjang dan lingkaran.

Untuk kegiatan hari ini, persiapan yang saya lakukan adalah dengan membuat terlebih dahulu pola empat bentuk geometri dengan beberapa ukuran diatas kertas berwarna. Lalu saya meminta bantuan anak-anak mengelompokkan pola yang tersedia menjadi empat kelompok besar. Selanjutnya adalah berkreasi membuat kolase dengan menempelkan pola-pola tadi menjadi bentuk yang baru.

Bentuk apa yang akan dibuat kaka dan dede yaa?
.....

Pulang sekolah kami disambut hembusan angin yang dingiiin, jadi kaka dan dede ngga boleh main diluar walaupun sudah dijemput teman mainnya (ya atuh, istirahat dulu harusnya).

Jadilah kami memainkan potongan gambar geometri. Dede membantu saya mengelompokkan gambar berdasarkan bentuk, awalnya ia mau mengelompokkan berdasarkan bentuk dan warna, tapi supaya mudah jadi empat kelompok saja.

Sesekali saya menanyakan nama bentuk geometri yang dapat dijawab dengan baik oleh kaka. Sementara dede sempat menjawab bulat untuk lingkaran, dan kotak untuk persegi, jadi disini jadi ajang pengenalan lagi untuk dede.

Selanjutnya waktunya berkarya, yang disambut dengan bersemangat oleh keduanya. Kaka bergegas mengambil kertas reuse dan mulai beraksi.

Saya sesekali ikut membuat bentuk-bentuk untuk menginspirasi.


Dan dari sekian contoh yang saya coba tunjukkan, kaka dan dede sepakat untuk mengambil tema tikus dalam karyanya: gerbong kereta tikus dan rumah tikus, hehehe.



Keduanya mempergunakan semua bentuk geometri. Dede terlihat membuat persedi dengan menggabungkan dua buah persegi panjang. Kaka pun terlihat menggabungkan dua buah persegi panjang, untuk membentuk persegi panjang yang lebih besar. Dan sepertinya ini menginspirasi saya untuk mengenalkan tangram pada merekaπŸ˜‰.



Rabu, 29 November 2017

My Journey: Math Around Us day7

Camilan Manis di Pagi Hari

Pagi ini ada yang seneng banget, karena mendapat sebatang cokelat.

Dede yang bangun lebih dulu langsung tersenyum sumringah, menggenggam cokelat di tangan.

"Untuk berdua ya", uti mengingatkan

"Iya", dede mengangguk namun tak beranjak dari duduknya, masih mengamati.

Ia tak membuka bungkus, sepertinya menunggu kaka bangun. Begitu kaka bangun, ia segera memamerkannya.
Jadilah mereka berdua membukanya bersama.

"Aku empat", saya dengar kaka berkata.

Penasaran saya mendekat, memerhatikan potongan cokelat. Kaka empat, dede enam...

"Engga sama nih membaginya, coba ini ada sepuluh. Kaka empat, dede enam berarti dede lebih satu", saya menjelaskan.

"Gapapa bun", kaka berdalih "Aku mau empat", lanjutnya.

"Kan tadi uti pesan di bagi dua, berarti harus sama", saya mengingatkan.

Akhirnya kaka mengambil lima potong cokelat miliknya, begitu pula dede.



Ada sedikit penyesalan yang saya rasa, semestinya tadi saya tidak perlu membantu untuk membagi sama rata. Sebenarnya cukup membuat mereka sadar, apakah cokelat yang mereka peroleh masing-masing sama banyaknya. Dan dari sana bisa digali cara membagi agar lebih adil. Ah... Saya melewatkan satu momen aha kali ini😐.

Selasa, 28 November 2017

My Journey: Math Around Us day6

Tidur siang merupakan salah satu rutinitas kami, yang harus di dahului dengan perjuangan (haha lebay). Anak- anak sepertinya kurang menyukai kegiatan yang satu ini, karena mengurangi waktu bermainnya. Namun yang saya rasakan, kegiatan ini begitu memengaruhi mood mereka. Emosi mereka terasa lebih baik bila mereka mau istirahat tidur siang.

Sebelum tidur biasanya kami mengobrol, bercerita bahkan tak jarang kami menonton video  hingga kantuk datang.

Kali ini tanpa sengaja saya justru membawa matematika sebagai pengantar tidur.

Aku Masih Perlu Visualisasi

Awalnya obrolan ringan bersama kaka, kami mencoba menjumlahkan dua buah bilangan.

Misalnya:  4+5=?

Saya akan menanyakan mana angka yang lebih besar dan lebih kecil, biasanya dapat ia jawab dengan tepat.

Angka yang lebih besar, kita simpan dalam hati. Angka yang lebih kecil di jari tangan. Saya mencontohkan angka empat di tangan, lalu mulai menghitung empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan.
Jadi empat ditambah lima sama dengan sembilan.

Beberapa kali kami melakukan tanya jawab, sering kali kaka yang memberi soal, saya mengarahkan agar kaka ikut membantu menjawab. Dari beberapa kali tanya jawab, saya merasa kaka masih kurang bisa mengaplikasikan berhitung dengan cara ini, saya berkesimpulan bahwa ini masih terlalu abstrak dan ia lebih memerlukan visualisasi seperti kegiatan sebelumnya.

Saya menghentikan tanya jawab, dan mencari tahu apa yang ia rasa.

"Kaka kesulitan ya? Nanti kita latihan seperti kemarin ya sampai kaka benar-benar paham".

Kaka mengiyakan.

Dan kali ini saya perlu menggaris bawahi bahwa saya harus bersabar dan kaka masih sangat memerlukan visualisasi.
.....

Jajan Sore

"Aku mau jalan-jalan sama jajan", kaka merajuk setelah gagal mengambil alih hp saya selepas bangun tidur (aih kaka, bunda mu sedang mengetik tugas nihπŸ˜…)

"Iya, ayuk", dede mengiyakan, dan tanpa rasa bersalah mengambil koin-koin dari laci lemari.

"Eh, mau kemana?", Saya berusaha menghentikan (aih berasa satpam).

"Bunda tidak mau mengantar ya", saya memberikan dua keping logam lima ratus masing-masing pada kaka dan dede.

"Kalau jajannya lima ratus atau seribu bisa, tapi kalau lebih tidak bisa ya", tutup saya setelah menjelaskan panjang lebar.

"Iyaa", koor keduanya sambil beranjak.

Naluri memaksa saya mengikuti dari belakang, dan memang benar dua warung dekat rumah ternyata tutup sehingga mereka menuju warung yang agak jauh, pastinya keduanya senang karena melihat saya menyusul mereka.

Seorang ibu dan puterinya keluar dari warung membawa sebatang es bon-bon.

"Aku mau seperti itu", bisik kaka.

"Aku juga", dede senada.

"Tanya dulu harganya", saya mengingatkan.

Harga es bon-bon pas dengan uang saku mereka, senyum mengembang di wajah keduanya.



Perjalanan pulang saya kembali menanyakan pada keduanya tentang harga es dan berapa uang yang mereka bawa, yang dapat dijawab dengan benar oleh keduanya.

Pelajaran yang saya ambil adalah agar lebih berhati-hati menyimpan receh dan gak ragu mendampingi mereka ketika akan belajar membelanjakan uangnya.

Senin, 27 November 2017

My Journey: Math Around Us day5

Ada rasa takut bersemayam dalam diri saya, mungkin itu alasannya saya tak pernah mencoba mengajarkan matematika pada kaka. Saya takut bila ekspektasi saya tak sesuai dengan kemampuan kaka, jadi saya selalu menghindar mengajarkan matematika secara khusus untuknya.

Usianya yang menginjak 6,5 kini, dan tantangan ini, membuat saya membuka pikiran menurunkan ekspektasi dan memberanikan diri memperkenalkan matematika padanya.

Menurunkan Ekspektasi

Kenapa menurunkan ekspektasi? Karena saya pernah berusaha mengajak kaka berhitung, tapi mungkin karena belum waktunya, saat itu tidak terlihat antusiasme kaka. Bahkan saya sengaja membuat worksheet dengan beberapa soal sederhana yang justru membuat saya jengkel jika target tak bisa kaka capai.. saat itu...
Saya tak mau lagi membuat lembaran belajar, kali ini saya mencoba memulai dari apa yang sudah ia tahu, dan menambahnya sedikit-demi sedikit.

Kaka tau tanda ini? Saya membuat tanda plus dan minus di selembar kertas.

"Ini tambah", ia menunjuk tanda minus.

"Kalau ini sakit", ia menunjuk tanda plus. Ah iya, mungkin ia sering melihatnya tergambar di mobil sisi ambulance.

"Kalau ini?", saya menggambarkan tanda sama dengan.

"Sama dengan", jawabnya penuh percaya diri.

"Iyaa, nah kaka pernah dengar matematika?", saya menuliskan kata matematika di bawahnya.

"Engga, berhitung?", Kaka balik bertanya.

"Iya, matematika sama dengan berhitung", jawab saya.

Saya memberi sebuah contoh padanya, kaka beli dua permen dan dede memberi satu, permen kaka jadi berapa?.

Lalu kami mulai menggunakan jari untuk berhitung.

"Tiga", jawabnya.

"Iya, nah kita bisa menulisnya seperti ini kaka... 2 + 1 = 3, ini tanda tambah", saya menunggu reaksinya.

"Lagi!lagi!..tapi sekarang es krim ya!", pinta kaka.

Dan kami segera terlibat permainan asyik matematika, tiap kali selesai mengerjakan tantangan, saya akan memeriksa dan memberi tanda centang bila benar.

Nyaris sepuluh soal, dan dapat ia kerjakan dengan baik bila disertai gambar. Saat saya memberi soal hanya berupa angka ia masih terlihat kesulitan.

"Kaka mandi yuk", ajak saya sore harinya.

"Boleh, tapi nanti main matematika lagi ya", celetuknya.

Entah mengapa rasanya begitu menyenangkan perkenalan kami kali ini dengan matematika 😊.






.....

Dede mendekati saya siang ini.

"Bunda, aku mau belajar kaya kaka", pintanya.

"Belajar berhitung?".

"Iya, tapi gambar kereta", lanjutnya.

Saya memintanya mengambil alat tulis, dan dilakukannya dalam sekejap.

"Aku punya satu kereta, terus bunda kasih dua".

Saya menggambar gerbong minimalis ala saya πŸ˜…, mengikuti pintanya. Dia menghitung kemudian, dengan benar.

Tak berhenti, kembali ia membuat soal, saya membantunya menggambar, dan ia menjawab dengan tepat.


Beberapa kali ia membuat soal sendiri dan menjawabnya pula. Untuk dede, ia masih salah ketika menuliskan angka 5, 3 dan 2. Saya belum berani membuat kesimpulan, apakah karena ia lupa atau kurang berlatih.

Pastinya ini memacu saya untuk lebih giat mengajak mereka bermain matematika 😊.

Minggu, 26 November 2017

My Journey: Math Around Us day4

Minggu pagi ini kaka bersiap ikut kakung olah raga ke Sport Jabar. Sebelum kaka berangkat, saya menyodorkan camilan yang kaka beli kemarin sebagai bekal.

"Engga, ini buat bekal besok saja", kaka menolak.

Kaka memang selalu punya rencana dan perhitungan sendiri. Banyak ide yang kadang membuat saya terkejut. Seperti saat diajak berbelanja bekal perjalanan, ia membeli sekantung permen, sepanjang perjalan ia hanya memakan sedikit saja dan ternyata ia ingin berbagi dengan saudara dan teman bermainnya ditempat tujuan nanti. Berbeda dengan dede yang cenderung segera menghabiskan, kaka sifatnya justru sebaliknya: perhitungan...

Operator Eksavator

Berpisah dari kaka, dede justru bersemangat ikut saya dan uti berjalan kaki ke lapangan gasmin, sebuah lapangan olah raga kecil sekitar 1 km jaraknya dari rumah. Mungkin salah satu yang memyemangatinya adalah dua lembar uang lima ribuan dalam genggamannya.
Begitu tiba, ia segera mendekati penjual mainan.

"Nanti de", tegur saya.

Ia menurut, tapi langkahnya terhenti di depan tempat penyewaan mainan. Dulu, ia pernah melihat permainan sejenis namun saya menolaknya, karena antrean cukup banyak dan saya memperkirakan ia belum cukup mampu mengoperasikan mesin kendali. 

Kali ini, meski masih sedikit ragu saya tak punya alasan untuk melarangnya.
Selembar lima ribu berpindah tangan. Pak penjaga mainan menjelaskan dan mengajarinya bermain sebentar, kemudian saya menggantikannya.

Ada 2 alat untuk mengoperasikan permainan ini, untuk melakukan gerakan buka-tutup, naik-turun, atas-bawah dan kanan-kiri. Saya cukup membaca keterangan yang ditulis di pinggir alat, tapi untuk dede yang belum bisa membaca artinya ia harus menghafalkan prinsip kerja eksavator ini.

Hal yang membuat saya kagum, ia tak perlu menghabiskan waktu yang banyak untuk menguasainya. Tak sampai 5 menit, dan ia tak memerlukan bantuan lagi untuk memainkannya sendiri.

Bagi saya, banyak aspek matematika yang ia pelajari di sini sembari bermain. Selain menghafalkan cara mengoperasikan ia harus memperhitungkan dengan tepat agar dapat mengambil serutan gergaji dan meletakkannya dengan tepat agar tidak berjatuhan.

Puas bermain eksavator, ia mengajak saya melihat penjual mainan. Pilihannya jatuh pada mainan mobil yang dapat berubah menjadi robot, sayangnya uang nya tidak cukup.

"Ngga cukup, uang dede tinggal 5 ribu", saya menjelaskan.

Ia pun beralih melihat mainan lainnya, tapi sepertinya tak ada lagi yang membuatnya merasa tertarik.

Ia kembali menimang mobil-robot. Rasa iba membuat saya memberikan penawaran.

"Kalau dede mau, artinya hari Senin dede ngga boleh minta jajan ya?".


Ia mengangguk cepat, senyum mengembang bersemangat untuk kembali berjalan pulang. Selanjutnya perlu konsistensi saya jika ia merengek minta jajan esok πŸ˜….

Sabtu, 25 November 2017

My Journey: Math Around Us day3

"Alifa ulang tahun", dede tiba-tiba nyeletuk tanpa tersenyum.

Kemarin dede melihat foto teman sekelasnya yang sedang merayakan ulang tahun.

Saya menangkap kekecewaannya, karena ulang tahunnya tanpa kue, lilin atau kado spesial dari saya atau ayahnya. Hampir dua minggu lalu hari jadinya dan kami berdua sepakat untuk mengucapkan selamat dan doa, tanpa embel-embel lainnya.

"Sekarang Desember?", Ia membuyarkan lamunan saya.

"Masih November de".

"Ko November lamaaa...", keluhnya.

"Coba lihat sekarang tanggal berapa, sekarang tanggal 25 de",

Mungkin ia teringat dengan rencana kedatangan ayahnya bulan depan.

"Kalau kemarin tanggal berapa de?".

"Ng.. 24".

"Kalau besok, hari minggu tanggal berapa?"

"Dua enam", jawabnya.

Aha, ini juga matematika, dimana kita belajar mengenal waktu, hari dan tanggal, hari ini, besok dan kemarin. Meski dede belum hafal nama-nama bulan dalam satu tahun (Juni dan Juli selalu terbalik), tapi ia sudah mulai bisa membaca kalender dengan baik.

Untuk menghafal nama hari dan bulan, saat itu (ketika kaka getol belajar kalender) tanpa sengaja kami membuat lagu nama bulan dengan menggubah lagu nama-nama hari (lagu ini cukup terkenal di kalangan anak tk).  

Kaka dan Kalender

Dulu ada masanya kaka suka banget sama yang namanya kalender, seingat saya di usia 5 tahun. Ada satu kalender dinding yang selalu dibawa-bawa, nama bulan dihafalkan, tanggal ulang tahun semua orang di dalam rumahpun kaka hafal, sampai tiap kali saya lupa hari atau tanggal saya tidak perlu lihat kalender, cukup tanya pada si sulung.

Seiring waktu, ketertarikan kaka pada kalender semakin berkurang. Kini interaksinya sebatas melihat gambar kalender, tahu nama hari bila ditanya dan kaka juga masih suka melingkari kalender.
Sembari menulis catatan ini, terlintas keinginan untuk mengecek kalender baru yang beberapa hari lalu saya beli, dan sempat kaka bawa-bawa ke sekolah.
Begitu saya cek, ternyata kaka sudah melingkari juga kalender tahun 2018 yang belum dipasang πŸ˜…, woow saya lengah rupanya.

Jumat, 24 November 2017

My Journey: Math Around Us day2

Bismillah,

Tentang Waktu

Belakangan anak-anak mulai membangun kebiasaan mandi sendiri, yang kami beri istilah 'cebangcebung' atau 'main air'.

Kalau dilakukan di sore hari sebenarnya cukup menyenangkan, karena saya bisa sedikit bersantai sementara anak-anak mandi. Nah, kalau pagi hari? Disinilah tantangannya, ketika anak ingin bermain air sementara ada tuntutan agar tidak terlambat masuk sekolah.

Dulu saya seringnya memandikan anak-anak demi efektivitas waktu, tapi belakangan akhirnya saya bisa merelakan mereka tetap bersenang-senang di pagi hari sebelum berangkat sekolah.

Ternyata yang saya butuhkan adalah memaksa diri saya sendiri untuk bangun lebih pagi, melakukan aktivitas domestik dan memenuhi kebutuhan saya terlebih dahulu termasuk mandi dan ngemil pagi. Hasilnya, saya merasa lebih segar untuk menjalani pagi itu.

Selanjutnya saya memagari waktu bermain air anak-anak, agar kami tuntas sebelum jam 7.30, maka saya mulai sounding untuk mandi sebelum pukul 6.30. Biasanya mereka terlihat merasa puas bermain setelah sekitar 20 menit bermain. Jadi tugas saya memastikan anak-anak tidak melebihi waktu 20 menit, ini kalau mereka mau mandi sendiri-sendiri. Adakalanya mereka mandi bareng-bareng sambil main, tentunya dengan durasi yang lebih lama.

Yang saya lakukan adalah dengan memberi tahu waktu 10 dan 5 menit sebelum akhirnya mereka harus benar-benar keluar dari kamar mandi.

Dengan cara ini sedikit demi sedikit, mereka belajar mengenal waktu. Minimal mereka semakin gesit jika saya berkata "3 menit lagi yaa.." atau "2 menit lagi yaa..".

Jam Kertas

Pagi ini saya menyempatkan membuat jam mainan, memanfaatkan kertas bekas undangan yang sayang untuk dibuang. Setelah melapisi kertas dengan cat akrilik, saya menambahkan deretan angka dan jarum jam, terakhir menggabungkan semua dengan bantuan push pin.
Fungsi utamanya sebagai alat bantu mengenal waktu, selain itu jam ini juga dapat saya gunakan mengingatkan anak-anak saat menunukkan durasi mandi maupun bermain.
Siang ini jam kertas saya gunakan untuk memberi batas nonton tv siang, awalnya saya tentukan hingga pukul 1 siang, tapi ternyata ada tawar-menawar hingga kami sepakati waktu tambahan hingga jarum panjang di angka 6 (30 menit) sebelum tidur siang sebagai syarat untuk main diluar nanti soreπŸ™Œ.

Kamis, 23 November 2017

My Journey: Math Around Us day1

Bismillah,
Matematika, memang tak pernah lepas dari keseharian kita dengan atau tanpa kita sadari. Kesadaran diri -ibu- mengenali penggunaan matematika dalam keseharian sangat diperlukan untuk mengikat makna,  mengubah hal biasa menjadi 'momen aha' yang istimewa.

Cerita Pagi

"Aku mah ringan", kata dede pagi ini, ia meminta gendong saat diajak mandi pagi.

"Terus siapa dong yang berat?".

"Kaka, soalnya udah 7 tahun", jawabnya.

"Enam tahun", saya memperbaiki sembari mencari hubungan antara berat badan dan usia.

Aha.. dede bisa membuat kesimpulan sederhana terkait berat badan dan usia antara dia dan kaka, good job dede, mungkin nanti kita bisa membuat rumus persamaannya πŸ‘πŸ™Œ.

Matematika Bakso Tusuk

Pulang sekolah kali ini kaka minta bakso tusuk.

"Empat ya bun", pintanya.

"Tiga aja ya ka", saya mencoba menawar.

"Engga ah, empat", tolaknya.

Huhu, kaka sudah tahu nih mana yang lebih banyak dan lebih mengenyangkan.
Sementara dede yang sebelumnya sudah minta dibelikan susu, ikut tertarik dengan bakso tusuk.

"Aku juga bun, dua ribu aja", pintanya, padahal satu baksonya seribu lima ratus πŸ˜….

Jadi saya membeli dua buah bakso, tapi....

"Kok dua, aku mau kaya kaka", dede protes.

"Lho, kan dua ribu cuma dapat dua de", jawab saya.

Aha!.. dede harus belajar lagi nih konsep penjumlahan matematikanya. Jadilah saya menyempatkan diri ngobrol ringan dengan si bungsu, dan karena spontan jadi saya memakai tangan sebagai alat bantu, bakso? Sudah habis dimakan dede πŸ˜‹.

"Barra punya 2 bakso, tapi ingin jadi 4. Jadi harus tambah berapa bakso?".

"Tiga, satu...", Dede menjawab sekenanya.

"Lihat tangan bunda..", pinta saya sambil mengulang pertanyaan.

"Dua", akhirnya dede menjawab dengan tepat.


  • YeayπŸ‘, nanti kita berlatih lagi ya nak😘.