Rabu, 16 Agustus 2017

My Journey: Family Project day6


Barra agak kecewa kemarin, karena makanan yang ia inginkan sudah habis di warung. Jadilah Barra membelanjakannya untuk membeli uang-uangan, lumayan laah dengan seribu rupiah bisa dapat 8 ratus ribu πŸ˜….
Saya jadi berfikir, mungkin project ini cukup memengaruhinya, hingga ia memilih mainan yang satu itu. 
Sedangkan Bumi akhirnya samasekali tak membelanjakan uang sakunya hingga jam bermain usai.

Sorenya mereka mendapat uang masing-masing dua ribu rupiah dari tantenya. Kaka kelihatan senang, meski belum tahu akan digunakan untuk apa uang yang ia dapat.

Saya sendiri juga kepo, apa yang akan mereka lakukan dengan uang sakunya hari ini😊.


Manager Cilik day3

Pagi yang sibuk, jadi kami baru membicarakan proyek ini setelah anak-anak siap untuk berangkat sekolah.
Ayah mulai menerangkan jumlah uang yang dimiliki anak-anak hari ini, dan sayapun segera menanyakan penggunaan dan mencatatkannya.


Manajer Bumi
Dari 5 ribu rupiah (seribu sisa hari yang lalu, 2 ribu dari tantenya dan 2 ribu uang saku hari ini) yang diterima hari ini, ia menyisihkan 500 rupiah untuk ditabung dan 500 rupiah untuk sodaqoh. Sisanya sebesar 4 ribu rupiah ia gunakan sebagai uang saku yang dapat dibelanjakan.
Kaka berencana membeli minuman teh sendiri, tapi untuk itu ia masih harus menabung satu hari lagi, karena harga tehnya 5 ribu rupiah.


Manajer Barra
Dari 4 ribu yang diterimanya hari ini (2 ribu dari tante, 2 ribu uang saku), ia menyisihkan masing-masing seribu rupiah untuk menabung dan sodaqoh.


Bunda Bank
Catatan bunda hari ini jumlah saldo Barra ada diatas Bumi dengan selisih 5 ratus rupiah. 
Kemarin sebelum tidur bunda membacakan sebuah cerita enid blyton, tentang seorang anak yang diminta menabung oleh kakeknya, namun ia gagal menabung karena ternyata uang tabungannya selalu digunakan untuk membantu orang lain. Bunda sih belum menanyakan pendapat anak-anak mengenai cerita tersebut, tapi pesan moral yang bunda tarik adalah bagus kalau kau bisa menabung, tapi jauh lebih bagus jika kau dapat mengelola uangmu dengan benar (dalam hal ini menolong orang lain yang lebih membutuhkan). Bunda penasaran, mungkinkah ada salah satu dari anak-anak ini yang terinspirasi dengan cerita yang bunda bacakan, hm...

#Day6
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Bunda Sayang
#Ibu Profesional
#IIP

Selasa, 15 Agustus 2017

My Journey: Family Project day5


Kemarin akhirnya anak-anak belajar membelanjakan uang sakunya setelah sebagian ditabung dan diaimpan untuk sodaqoh.

Bagi saya, project ini sangat membantu, khususnya ketika anak-anak meminta jajan sepulang sekolah, saya mengingatkan bahwa mereka sudah memiliki uang saku dan jika ingin membeli, maka mereka harus menabung terlebih dahulu.

Kemarin Barra meminta bantuan saya ketika ingin membelanjakan uangnya, ia belajar tentang harga makanan yang ia pilih, dan berapa jumlah makanan yang ia dapat beli dengan uang sebesar seribu rupiah.

Sementara Bumi, membelanjakan sendiri uangnya tanpa meminta diantar, meskipun akhirnya saya mengikutinya dari belakang dan ternyata ia mendapat bantuan dari temannya.

Manager Cilik day2

Pagi ini kami kumpul berempat, ayah yang bertugas menjadi direktur keuangan memberikan uang saku pecahan uang sebesar dua ribu rupiah pada Bumi dan Barra. Sementara saya bagian pencatatan keuangan, begitu anak-anak mendapatkan uang saku, saya segera menanyakan apakah ada yang akan disisihkan atau tidak.


Manajer Bumi
Bumi menyisihkan uangnya seperti hari sebelumnya, meskipun awalnya ia ingin membelanjakan uang sakunya untuk membeli dua jenis makanan yang ternyata harganya melebihi uang jajan. Akhirnya Bumi memilih untuk membelanjakannya membeli makanan seperti kemarin saja.


Manajer Barra
Barra menyisihkan uangnya dengan komposisi sama seperti hari sebelumnya. Sepertinya ia mulai dapat mengikuti kegiatan ini.


Bunda Bank
Hari ini baik uang tabungan maupun shodaqoh terus bertambah. Bumi maupun Barra sepertinya sudah merasa cukup dengan membelanjakan uang seribu rupiahnya. Mereka tak meminta tambahan atau jajanan lainnya, kalaupun habis atau ingin jajan, bunda mengingatkan bahwa mereka tadi sudah membelanjakan uang sakunya.
Sedikit demi sedikit, bunda khususnya mulai menikmati manfaat family project kedua ini.

#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Bunda Sayang
#Ibu Profesional
#IIP

Senin, 14 Agustus 2017

My Journey: Family Project day4

Qadarullah Sabtu dan Minggu kami padat merayap, sehingga tak cukup banyak waktu yang kami miliki untuk sounding para calon manajer cilik kami.

Namun justru kesibukan itu menyadarkan saya bahwa proyek yang akan kami lakukan memang benar-benar penting dan dibutuhkan oleh kedua anak kami.


Manager Cilik day1

Pagi ini kami kumpul berempat, kembali mengulangi penjelasan apa yang akan kami lakukan.

Recehan 2 ribu berupa koin yang kami sediakan untuk hari ini. Awalnya saya ingin membiarkan anak-anak memegang uangnya seharian baru kemudian sisanya digunakan untuk sodaqoh dan menabung, namun akhirnya saya mengganti strategi, nampaknya tabungan dan sodaqoh yang saya minta terlebih dahulu sebelum untuk keperluan lainnya.

Manajer Bumi
Awalnya Bumi menyisihkan 3 koinnya untuk sodaqoh, satu koin untuk ditabung. Dan ketika saya jelaskan bahwa ia tak memiliki uang untuk jajan, ia terlihat kebingungan.
Saya beralih pada Barra, dan membiarkannya berfikir sejenak.
Pada akhirnya, terinspirasi dengan yang dilakukan Barra akhirnya Bumi menyisihkan untuk tabunga dan sodaqoh masing-masing sebesar 500 rupiah, sisanya untuk jajan.


Manajer Barra
Sepertinya sejak awal Barra sudah merencanakan menggunakan seluruh uangnya untuk jajan. Ia terlihat agak keberatan saat saya memintanya menyisihkan uang untuk sodaqoh dan menabung. 
Hihihi, geli melihatnya.
Akhirnya ia menyisihkan uang untuk sodaqoh dan menabung, masing-masing 5 ratus rupiah, dan seribu untuk jajan.

Bunda Bank
Agak geli sebetulnya memberi judul bank, tapi kalau celengan atau simpanan, kesannya jadi punya saya uangnya hihihi.
Nah, karena sebagai bank tugas bunda menyimpan, menukar dan mencatat uang anak-anak setiap hari. 
Sederhana saja sih pencatatannya, saya mencatatkan tanggal, besarnya uang yang ditabung dan disodaqohkan bila hari itu tidak langsung dikenclengkan di sekolah.

Agar tidak tercecer, uang untuk jajan saya simpan dalam kantung plastik dan tidak boleh dibawa sekolah
Project Family ke-2 ini sangat menantang bagi saya khususnya, saya dan suami sebagai leader harus terus membimbing mereka agar kelak dapat menjadi manager keuangan yang handal, minimal bagi diri sendiri.

#Day4
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Bunda Sayang
#Ibu Profesional
#IIP

My Journey: Family Project day3

Kencleng Harian dan Recehan Bunda

Awalnya adalah sebuah kericuhan di Jumat pagi, kaka menolak recehan yang saya beri untuk sodaqoh di sekolah.

"Aku mau uang kertas, yang warna biru", ujarnya memaksa.

Selidik dari ceritanya, nampaknya ia merasa iri dengan temannya yang memasukkan uang kertas kedalam kotak kencleng harian.

Kalau itu penyebabnya, bunda khawatir bahwa kaka membawa uang kencleng untuk sekadar dipamerkan pada teman-teman yang lain.

Dialog panjang kami sampai pada kata 'tidak', dan ia akhirnya sepakat meski terpaksa.

Saat rapat sekolah sebelumnya, saya mencatat bahwa kencleng di sekolah itu tujuannya adalah agar anak berlatih berbagi dan mengesampingkan besarannya.

Manager Cilik

Usai mengantar anak-anak sekolah, terlintas ide untuk mengenalkan anak pada uang. Ya, selama ini mereka selalu dibantu ketika hendak membeli sesuatu, tidak pernah membelanjakan sendiri uangnya. Wajar jika kaka masih belum memahami besaran mata uang yang kami ributkan tadi.

Saat itu saya gunakan bersama suami untuk merancang proyek kedua keluarga kami, yaitu 'Manager Cilik'. Untuk proyek kedua ini kami mengalokasikan waktu selama satu bulan untuk anak-anak belajar mengelola uang saku yang kami berikan.
Pembagian tugasnya sebagai berikut:
Ayah: direktur keuangan
Bunda: akuntan
Bumi dan Barra: manager keuangan cilik

Sore harinya, saya mencoba memberi penjelasan pada anak-anak mengenai proyek kedua kami. Bahwa ayah dan bunda akan memberi Bumi dan Barra uang saku di hari Senin hingga Jumat. Uang saku sebesar 2 ribu rupiah itu dapat digunakan untuk jajan, menabung atau sodaqoh.

Kami juga berusaha mengenalkan bahwa uang yang terkumpul nantinya dapat ditukarkan dengan uang kertas. Misalnya dua koin lima ratusan dapat ditukarkan dengan selembar uang seribu, meski rasanya butuh banyak pengulangan sebelum kami melaksanakan rencana kami di hari Senin.

#Day3
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Bunda Sayang
#Ibu Profesional
#IIP

Jumat, 11 Agustus 2017

My Journey: Family Project day2

Hari ini kami melaksanakan rencana proyek keluarga yang kami bincangkan kemarin, yaitu 'Jumat Berbagi'.


Jumat Berbagi

Jelang adzan subuh Barra bangun, usai shalat dengan semangat ia mengajak saya untuk membeli nasi bungkus, rupanya ia ingat dengan proyek kami hari ini. Saya memintanya bersiap, sembari membangunkan Bumi. Saat tahu bahwa saya dan Barra akan pergi keluar, kaka segera bangun karena ternyata ingin ikut juga. Saya sedikit terkejut, karena biasanya kaka susah diajak bangun pagi, semenjak memulai hobi barunya: bersepeda.


Akhirnya kami bertiga berangkat membeli beberapa bungkus nasi, gelak tawa mereka berdua memecah heningnya pagi yang masih temaram.
Meski akhirnya saya juga yang memesan dan membayar, tapi semangat anak-anak dan suami yang datang menyusul ikut pagi tadi membuat suasana lebih hangat.


Pukul setengah 6 kami berempat sudah siap mengantarkan nasi bungkus, menembus sejuknya pagi yang belum disinari mentari menuju tempat pembuangan sampah sementara di lingkungan tempat tinggal kami.
Ada seorang petugas yang tengah menyapu halaman tps. Melihat kami ia segera mendatangi kami sembari bertanya.

"Mau buang sampah bu? Biar saya aja yang ambil".

"Bukan pak, ini ada sedikit nasi bungkus untuk bapak dan teman-teman sarapan".

Bapak petugas tampak sedikit terkejut, kemudian berterimakasih.
Kami pun segera berpamitan pulang, di jalan suami berbisik.

"Bun, ga sempat difoto".

Hihihi tak apalah, meski tak terdokumentasikan tapi saya yakin ini terekam dalam ingatan anak-anak.

Pagi itu saat sarapan, saya gunakan untuk menanyakan pada anak-anak apa yang mereka rasakan.

"Senang, soalnya berbagi", kata Bumi

"Iya, berkah ya..", lanjut Barra, membuat saya tersenyum.

"Lain kali, dede yang pesan makanannya ya, dan kaka yang bilang sama orang yang dikasih", mereka mengiyakan.

Ada beberapa yang saya dan suami sadari mengenai beberapa kekurangan dari proyek kami hari ini.

Pertama, persiapannya kurang, mungkin lain kali kami akan mencoba membuat sendiri makanan yang akan dibagikan agar lebih terasa kebersamaannya. 
Kedua, mungkin akan memberikannya secara menyebar, dan anak-anak mencoba membagikan sendiri.

Master Mind Fampro #1 Jumat Berbagi

a. Pengalaman menarik selama menjalankan projek ini, adalah suami tampak antusias mengkuti family project ini, dengan mengajukan diri sebagai pj transportasi dan dokumentasi. Anak-anak pun terlihat bersemangat dengan rencana yang kami buat kemarin.

b. Hal baik dari kegiatan proyek keluarga ini membuat kami merasa bersemangat.
Anak-anak belajar berani dan berbagi meski masih tahap memperkenalkan, karena mereka belum melakukannya tugasnya sendiri.

c. Hal baik yang akan dilakukan di kegiatan berikutnya adalah:
Mencoba kegiatan berbagi, dengan membuat sendiri makanan yg akan diberikan. 
Bumi dan Barra mencoba langsung untuk berkomunikasi baik saat membeli atau memberikan sesuatu pada orang lain yang mungkin belum dikenalnya

#Day2
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Bunda Sayang
#Ibu Profesional
#IIP

Kamis, 10 Agustus 2017

My Journey: Family Project day1

Setelah seminggu rehat dari blog, kali ini saya mulai kembali dengan cerita perjalanan kami mencoba membuat family project. Ya, tantangan ke-3 kuliah kelas Bunsay 3 IIP ini adalah membuat proyek keluarga.

Nah, apa sih family project itu? Family Project merupakan aktivitas yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Hari pertama tantangan, kami mengadakan family forum untuk menentukan ide dan rencana pelaksanaan proyek pertama keluarga kami.

Family Forum

Siang ini sembari makan siang, saya manfaatkan sebagai ajang family forum, bersama Bumi dan Barra. Sebagai catatan, sebelumnya saya dan suami sudah terlebih dahulu mencari beberapa ide untuk disampaikan pada anak-anak. Kali ini kami memilih jumat berbagi sebagai proyek keluarga pertama.

Awalnya saya ajak mereka bersyukur, karena masih bisa menikmati  rejeki berupa makanan siang ini. Saya lemparkan wacana tentang orang-orang yang mungkin kurang beruntung, sehingga untuk sarapan mereka harus bekerja terlebih dahulu.
Kaka Bumi mengiyakan, dan menyampaikan empatinya, sementara Barra hanya menyimak.

"Kaka tahu mang Ihin, petugas kebersihan? Dulu bunda pernah lihat mang Ihin berhenti dekat gerobaknya lalu makan, mungkin belum sarapan ya kak. Gimana kalau besok kita berbagi sarapan pagi untuk mang Ihin dan teman-temannya?".

Kaka mengiyakan, sambil menyebut juga beberapa nama orang yang ia kenal dan nampak layak dibantu.

"Atau kita bisa menghias biskuit, untuk dibagi ke teman-teman kaka di sekolah atau di rumah, itu juga berbagi", saya mengajukan ide lainnya.

"Kasih mang Ihin saja", kaka memutuskan.

Kami melanjutkan diskusi dengan menentukan jenis makanan serta siapa yang akan membeli dan membantu menyerahkannya nanti, kebetulan saat itu suami ikut bergabung sehingga anggota diskusi lebih lengkap.

Akhirnya kami sepakat bahwa Barra akan membantu membeli nasi bungkus besok pagi ditemani Bunda, dengan Bunda sebagai penanggung jawab keuangan. Ayah bertanggung jawab di bagian transportasi dan dokumentasi, dan rencananya Bumi yang akan menyerahkannya.

Tanpa dokumentasi, siang ini kami berhasil mencapai kesepakatan proyek pertama kami.

Bismillah, semoga Allah memudahkan urusan kami.


#Day1
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#Bunda Sayang
#Ibu Profesional
#IIP

Kamis, 03 Agustus 2017

Aliran Rasa Bunsay#2

Bismillah,
Selama dua minggu melatih kemandirian anak, saya mencoba melatih kemampuan anak-anak saat aktivitas rutin bangun dan sebelum tidur juga ketika makan.

Proses yang tidak mudah tentunya, kegagalan tak sedikit terjadi, nyaris putusasa pun dialami. Satu jurus terakhir yang saya gunakan saat benar-benar terpojok adalah 'karena bunda tak bisa selalu bersamamu dan bunda khawatir padamu'. Dengan jurus itu, biasanya anak-anak pada akhirnya mau mencoba.

Beberapa hasil yang kami petik antara lain:
- kebiasaan baru kami menjelang tidur, yaitu menggosok gigi. Lucunya, saya sendiri yang merasa malu kalau rasa 'malas' menghampiri. Sejak awal berlatih mandiri, kami belum sekalipun bolos menggosok gigi sebelum tidur, yeaaay😁.
- kaka bisa memasang sprei sendiri, meski kebiasaan ngompolnya belum bisa stop, tapi sekarang kaka sudah bisa pasang sprei sendiri loh. Jadi teringat drama di awal berlatih sampai akhirnya kaka bisa menemukan caranya sendiri, goodjob ka😘
- untuk hal makan, saya yakin anak-anak bisa melakukannya sendiri, mulai mengambil piring, nasi, lauk, sendok, makan sendiri, menjumputi makanan yang berceceran sampai akhirnya menaruh piring di tempat cuci. Kendala terbesarnya adalah: saya. Ya, saya nih yang masih memakai alasan 'efektivitas waktu', sehingga kegiatan 'menyuap' masih berjalan, padahal disekolah mereka bisa mandiri πŸ™ˆ.

Tugas saya masih banyak tentunya dalam mengajarkan dan mengaplikasikan kemandirian ini, manajemen waktu dan komunikasi produktif tentu masih mengekor. Tapi insyaAllah, saya akan terus berusaha, karena saya tau pasti ada batas usia yang membayangi di setiap langkah saya, dan ada mereka yang layak untuk dapat hidup mandiri di masa depannya kelak.


#Aliranrasa
#melatihkemandirian
#gamelevel2
#bundaSayang
#IIP
#KuliahBunsayIIP