Sabtu, 24 Juni 2017

Family: Food

Kukis Lumer Isi Nanas


Salah satu kukis yang saya sukai sedari kecil, dan paling saya cari saat hari lebaran adalah nastar. Si kukis isi nanas, dulu sekali yang saya kenal adalah berbentuk keranjang, yang akhirnya saya yakini bahwa sebenarnya bukan keranjang tapi lebih menyerupai mini pie dengan isian selai nanas. Bentuk lainnya yaitu bulatan berisi selai dan bagian atasnya diberi tancapan cengkeh, menciptakan sensasi aroma manis dan wangi. Belakangan semakin variatif saja bentuk si kukis nanas ini.
Untuk membuatnya, tidak bisa dibilang rumit, namun memang memakan waktu untuk membentuk dan memberi isiannya.
Untuk resep nastar, pilihan saya jatuh pada resep nastar ncc, yang saya modif terkait ketersediaan bahan.
Tekstur nastar ncc yang rapuh menjadi alasan saya berkali-kali menggunakan resep ini sembari terus mencari cara agar mendapat nastar yang berkilau, aww..hihihi.

Resep nastar ncc (sumber: ncc-indonesia):

Berikut bahan yang saya gunakan:
250g margarin
50g gula halus
2 butir kuning telur
350g terigu segitiga
1 sachet susu bubuk
1/4kg selai nanas (bentuk bulatan kecil, masukkan kulkas)

Olesan: kuning telur

Cara membuat:
Campurkan margarin, kuning telur dan gula halus, aduk sebentar hingga rata. Tambahkan susu dan terigu, aduk hingga rata.
Bentuk bulat adonan, pipihkan, beri isian dan bulatkan kembali. Lakukan hingga adonan habis.
Letakkan adonan yang telah dibentuk keatas loyang yang telah diolesi minyak dan terigu.
Panaskan oven di kisaran suhu 150°C.
Panggang selama 30 menit, keluarkan lalu dinginkan sebentar.
Beri olesan kuning telur, lalu panggang kembali sekitar 5menit.
Setelah matang, dinginkan nastar, baru kemudian disimpan dalam wadah tertutup.

Nastar yang saya buat kemarin kurang perhitungan saat memoles telur, karena setelah saya poles dan panggang selama 5 menit, ternyata nastar belum mencapai tingkat kematangan yang saya inginkan, jadi saya masukkan kembali agak lama hingga lapisan telur pecah.
Jadi sebaiknya, pastikan nastar memang sudah hampir matang benar, baru kemudian diberi olesan dan panggang kembali selama 5 menit.

Selai homemade lebih direkomendasikan untuk membuat nastar dengan kadar manis dan aroma yang pas. Tapi, menggunakan selai jadi pun tak masalah, nastar tetap menjadi salah satu teman istimewa di hari raya.



Jumat, 23 Juni 2017

Review Materi Komunikasi Produktif

Review Tantangan 10 Hari
Materi Bunda Sayang #1 :
Institut Ibu Profesional

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Bagian #1

Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas.

Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :

a. Tahap Anomi : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

b.Tahap Heteronomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

c. Tahap Sosionomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

d. Tahap Autonomi : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak  hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Maka komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya – Michael angelo


Bagian #2

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi anda dengan pasangan
yaitu :

a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)

Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya..

contoh : Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).


b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

contoh : Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.


c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber¬sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI

a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER
jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)
istri : “ayo kita  cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)


b. TRANSAKSI SILANG
terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah¬pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan  ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

Suami : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)

Istri : “Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak,  masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan ego anak-anak )

pasti akan menyulut respon emosi.

c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI
jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar¬pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter¬sembunyi.

Contoh:
Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).

Penjual itu kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.


Bagian #3

BERKOMUNIKASI SESUAI BAHASA CINTA ANAK

Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;

1. Sentuhan Fisik,

2. Kata-kata Mendukung,

3. Waktu Bersama,

4. Pemberian Hadiah,

 5. Pelayanan.


Umumnya setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.

1. Apabila bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik
* Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
* Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
* Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
* Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
* Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
* Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
* Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
* Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.

2.Apabila bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung
* Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
* Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan memberi kata-kata membangun, seperti “Mama bangga dengan adik bermain adil di permainan tadi,” atau “Kakak baik sekali membantu adik membangun rumah-rumahan itu.”
* Simpan hasil karya si kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
* Biasakan mengucap kata, “Mama sayang kamu,” tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
* Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.


3. Apabila bahasa cintanya adalah Waktu Bersama
* Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
* Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
* Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
* Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.
* Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
* Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
* Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.


4. Apabila bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah
* Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
* Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
* Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
* Buah sebuah “kantong hadiah” berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
* Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
* Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
* Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.


5. Apabila bahas cintanya adalah Pelayanan
* Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
* Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
* Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
* Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
* Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.
* Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
* Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.

Cara mengamati bahasa cinta anak :

1.  Amati cara si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama
Apabila si Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih Mama atas makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin adalah “Kata-kata Mendukung”.

2. Amati cara si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain
Apabila si Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.

3. Pelajari apa yang seringkali diminta oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan cerita untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu Bersama”. Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai apapun yang sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?” atau “Bajuku bagus ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Kata-kata Mendukung”.

4. Pelajari apa yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar rumah, seperti “Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah mengajakku ke taman lagi,” maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Waktu Bersama”.

5. Beri 2 pilihan kepada si Kecil
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang diinginkan si Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta. Contohnya, saat Mama ada waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si Kecil seperti “Sore ini adik mau Mama temani jalan-jalan atau mau Mama betulkan rok adik yang rusak?”, dengan memberi pilihan ini maka Mama memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu Bersama” atau “Pelayanan”.


Sumber bacaan:

Gary Chapman & Ross campbell M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014

Eric Berne, Games people Play, jakarta

Eric Berne, Transaksional Analysis, jakarta.
.

Kamis, 22 Juni 2017

Badge Komunikasi Produktif

Setelah perjuangan selama sepuluh hari, alhamdulillah..akhirnya dapat juga badge pertama.

Sempat merasa mandeg di titik menahan emosi, dan akhirnya mencoba merayap ke titik target lainnya. Yeaay i did it!
Bagde i'm responsible for my communication result ini, adalah hadiah kecil yang akan selalu mengingatkan saya tuk konsisten memperbaiki kemampuan komunikasi.

Target selanjutnya adalah konsisten menulis, supaya tidak loncat hari lagi, hihihi, semangaaat!.

Aliran Rasa Bunsay#1

Komunikasi Produktif


"Anda tahu, apa penyebab berbagai masalah di dunia ini?", Ka shanty bertanya pada kami, audience peserta pelatihan.
Ia memberi petunjuk jumlah kata dan awalannya.
"Komunikasi?", Saya balik bertanya.
"Ya, komunikasi!", Ulang Ka shanty.

Kejadian itu telah berlalu bertahun-tahun lalu, namun potongan percakapan itu terus melekat dalam benak saya. Ketika saya mengajar disekolahnya pun, dengan tegas kami diingatkan dan dilatih bagaimana cara berkomunikasi dengan orangtua murid sebelum pembagian raport. Betapa pentingnya cara berkomunikasi, apalagi mengomunikasikan hasil belajar anak pada orang tua.

Saat saya memasuki kehidupan berkeluarga, saya semakin menyadari bahwa cara saya berkomunikasi sebagai istri juga ibu, amat memengaruhi sikap dan perilaku suami dan anak-anak.
Sementara kontrol emosi begitu memengaruhi saya dalam berkomunikasi.

Ya, PR terbesar saya dalam komunikasi adalah pengendalian emosi. Tantangan 10 hari membuat saya jatuh bangun berusaha memertahankan kestabilan emosi. Saya sampai pada tahap menemukan pemicu emosi dan kini masih dalam tahapan melatih diri tuk menghindari titik-titik itu.

Meski saya mencoba memasuki poin-poin komunikasi lain, konsistensinya masih sering terbentur saat emosi saya kembali meningkat.

Jika marah adalah sebuah energi, maka selayaknya saya mengubahnya menjadi bentuk enegi yang lebih positif dan bermanfaat.
Tak mudah memang, tapi saya yakin, sepanjang keinginan untuk berubah itu ada maka harapan meraih kebaikan pun akan senantiasa ada.


Bismillah...

Minggu, 18 Juni 2017

Family: Food

Manis Gurih Si Kue Kacang

Inginnya buat kue lebaran, apadaya belum sempet aja beli bahan-bahan. Akhirnya bikin kue kacang aja deeh, kalau yang ini bahannya lengkap di lemari.

Cara membuatnya juga praktis, cukup aduk rata semua bahan, dinginkan di kulkas lalu cetak. Nah, bagian cetak ini yang harus sabar, karena teksturnya mudah hancur, agak mirip dengan adonan kue putri salju.

Oke, ini dia bahan dan cara membuatnya😋

Bahan:
200g terigu (segitiga)
75g gula halus
125g kacang tanah disangrai, lalu diblender
1/4sdt garam
sejumput vanili
100g minyak goreng

Olesan
1/2sdm margarin
1 kuning telur

Cara membuat
Campur bahan kue, aduk rata.
Masukkan ke dalam kulkas minimal 1 jam, keluarkan lalu cetak.
Oles dengan bahan olesan yang sudah dicampur rata.
Panggang sekitar 30 menit.
Dinginkan, simpan dalam wadah tertutup rapat. Adonan ini jadinya sekitar 1 toples ukuran 1/2kg, lumayan deh buat cemilan berbuka nanti😀.

Happy baking😘



Senin, 12 Juni 2017

My Journey: Menaklukkan Hambatan Komunikasi #11

Games Komunikasi Produktif day 11

Bismillah,
Hari ke-11 tantangan..
Refleksi pengalaman

"Bunda lihat tadi anak-anak main apa?
"Iya"
"Dulu ay juga main kaya gitu" (memutar-mutar peganga mesin jahit)
"Ngga dimarahin?"
"Ya di marahin, kalau ketahuan sama mamah", suamiku menjawab sembari tertawa.

Ya, sabtu kemarin kami memutuskan berbuka puasa di rumah mertua, sekalian makan sahur disana.
Anak-anak , seperti biasa telihat aktif dan antusias mengelilingi rumah, bereksplorasi.
Mesin jahit itu menjadi salah satu objeknya. Terlihat sudah cukup lama tak terpakai, dan mungkin memang demikian adanya.
Berimajinasi menjadikannya kendaraan, asik sekali kelihatannya.
Bedanya jika dulu suami dilarang melakukannya, kali ini anak-anak diijinkan selama itu tidak berbahaya dan karena mesin tersebut memang sudah tidak dipakai.

Di rumah mertua, hampir setiap saat tv menyala, mungkin sebagai salah satu hiburan di rumah ini. Anak-anak yang terhitung jarang menonton tv cukup tertarik. Hingga kadang, sepertinya tanpa mereka sadari berpindah posisi semakin dekat ke tv.

Saya mengingatkannya, salah satunya dengan menjelaskan, jika nonton terlalu dekat matanya bisa rusak dan harus pakai kacamata seperti bunda. Tak selalu berhasil memang, namun itu cukup logis tuk mereka terima.

Bagi saya, point refleksi pengalaman membuat kita semestinya dapat lebih bijak memilih dan membuat keputusan.
Lewat penjelasan bahwa bunda/ayah juga pernal loh, membuat anak tak merasa sendirian. Dan lebih mudah untuk anak memilih apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

#level1
#day11
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Minggu, 11 Juni 2017

Resume Kulwap: Gerbang Aqil Baligh Kedua (10-14th)

Beberapa point yang disarikan dari kulwap Gerbang Aqil Baligh bagian 2 ini antara lain:

👩👨Pada fase tadribat (latihan level 2), anak mulai mentrasfer value yang didapatkan di rumah dan membandingkannya dengan lingkungan.

👩👨Dengan posisinya sudah masuk fase menjelang taklif, persiapan menjadi hamba Allah dengan komitmen diri dan siap mengikuti syariat Allah.

👩👨Ketika anak sudah sampai pada fase ini, maka orang tua sudah menyiapkan anak untuk menjadi mukallaf.

Bagaimana dengan perkembangan fitrahnya? Apa saja yang dapat dipersiapkan orang tua untuk memasuki fase tersebut.

Resume selengkapnya terdapat dalam tautan berikut:

https://docs.google.com/document/d/1SAjqQXK5LaWajFH_SHX_Weruk4QSNM7Q78MGAsDJTD8/edit?usp=drivesdk